Home Artikel Seni Di Pendopo DPRD Cimahi, Bandoengmooi Persembahkan ‘Siluman Munding Dongkol’

Di Pendopo DPRD Cimahi, Bandoengmooi Persembahkan ‘Siluman Munding Dongkol’

420
0
SHARE

Minggu, 1 Oktober 2017 | 16:27 WIB

POJOKBANDUNG.com, CIMAHI- Komunitas budaya “Bandoengmooi” mencurahkan keprihatinan terhadap pencemaran lingkungan melalui seni Longser dengan mengangkat tema “Peduli Lingkungan”.

Ketua Bandoengmooi, Hermana menjelaskan, pertunjukan longser tersebut merupakan kritik sosial terhadap pencemaran lingkungan dan maraknya alih fungsi lahan pertanian dan perkebunan atau daerah resapan air bersih, menjadi permukiman.

“Alih fungsi ini selain menyebabkan berkurangnya sumber air bersih juga bisa menyebabkan banjir,” kata Hermana.

Disisi lain, kebiasaan buruk masyarakat dan perusahaan yang membuang limbah ke sungai, dapat mengancam kelangsungan hidup masyarakat dan merusak ekosistem. “Intinya harus sama sama menjaga kebersihan lingkungan,” ucapnya.

Apa yang diharapkan dari pertunjukan tersebut, ungkapnya, diharapkan mampu memberi nilai edukasi yang dapat meningkatkan kesadaran budaya dan kesadaran lingkungan serta membangun citra positif bagi perkembangan kota Cimahi.

“Jadi bukan semata menampilkan seni sebagai media hiburan saja, tapi bisa menjadikan sebuah motivasi dalam meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap Lingkungan, Seni dan Budaya,” tuturnya.

Pertunjukan bercerita adanya seorang gadis bernama Euis yang diberitakan hilang setelah ibunya menyuruh Euis untuk mengambil air di sumber mata air dekat aliran sungai tak jauh dari rumahnya.

Hilangnya gadis itu membuat warga sekitar menduga Euis dibawa “Siluman Munding Dongkol”. Siluman itu diyakini masyarakat merupakan mahluk gaib yang mengiasai aliran sungai di wilayahnya.

Pada akhirnya, warga pun menyimpulkan kalau Euis dijadikan tumbal atau persembahan oleh Nyimas Titi seorang pengusaha, yang dianggap telah bersekutu dengan Siluman Munding Dongkol.

Setelah dicari, Euis yang hilang akhirnya ditemukan namun telah menjadi mayat. Dikabarkan Euis meninggal bukan karena dipersembahkan pada Siluman Munding Dongkol, namun jatuh terpeleset dan terbawa arus sungai. Mayatnya pun ditemukan dikubangan jauh dari tempat Euis terjatuh.

Selain digemparkan oleh hilangnya Euis, masyarakat juga digemparkan oleh langkanya air bersih dan adanya wabah penyakit yang menimpa sebagian besar masyarakat di sekitar bantaran sungai dan sudah banyak yang meninggal dunia.

Tudingan sumber penyakit itu pun tertuju pada Siluman Munding Dongkol yang sedang minta banyak korban. Akan tetapi, diantara masyarakat masih ada yang tidak percaya dengan tahayul atau mitos Siluman Munding Dongkol.

Mereka mengatakan bahwa sumber penyakit itu muncul karena disebabkan air yang digunakan masyarakat telah tercemar oleh limbah dan, sumber mata air yang ada menjadi kekeringan disebabkan oleh hilangnya tempat serapan air karena, lahan pertanian dan hutan lindung sudah sangat berkurang karena alih fungsi menjadi permukiman dan pabrik.

(gat)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here