Home Artikel Seni “Munding Dongkol”, Kritik Sosial untuk Krisis Bandung Utara

“Munding Dongkol”, Kritik Sosial untuk Krisis Bandung Utara

512
0
SHARE
Pertunjukan Teater Munding Dongkol
BANDUNG, AYOBANDUNG.COMAir adalah sumber kehidupan; tiada air tiada kehidupan; semua makhluk butuh air; demi kelangsungan kehidupan.

Itulah potongan lagu yang menjadi gambaran benang merah sebuah pertunjukan teater berjudul “Munding Dongkol”.

Alkisah, Euis diberitakan hilang setelah menjelang magrib. Ibunya Ceu Edoh menyuruh putrinya itu mengambil air di sumber mata air dekat aliran sungai.Tak kunjung pulang, Sang Ibunda pun gelisah, dan melapor pada warga Sekitar.

Usut punya usut, masyarakat pun lanjut menuding Euis hilang dibawa oleh Siluman Munding Dongkol, makhluk gaib yang menguasai aliran sungai di wilayah tersebut.

Bahkan, masyarakat menuding, Euis dijadikan tumbal atau persembahan oleh Nyimas Titi seorang pengusaha, yang dianggap telah bersekutu dengan siluman Muding Dongkol.

Selain heboh hilangnya Euis, masyarakat pun digemparkan oleh langkanya air bersih dan wabah penyakit yang menimpa sebagian besar masyarakat di sekitar bantaran sungai itu hingga banyak korban jiwa.

Tudingan sumber penyakit itu pun tertuju pada sang Siluman, Munding Dongkol yang sengaja sedang minta banyak korban.

Namun, di antara masyarakat masih ada yang tidak percaya dengan tahayul atau mitos Siluman Munding Dongkol itu. Mereka mengatakan, bahwa sumber penyakit itu muncul disebabkan air yang digunakan masyarakat telah tercemar oleh limbah.

Pasalnya, sumber mata air yang ada kini menjadi kekeringan. Diperparah dengan hilangnya tempat serapan air, lahan pertanian, dan hutan lindung yang sudah sangat berkurang karena alih fungsi menjadi pemukiman.

Kegegeran berlanjut. Euis yang hilang akhirnya ditemukan telah menjadi mayat. Dikabarkan, Euis meninggal bukan karena dipersembahkan pada siluman Munding Dongkol, namun terjatuh dan terpeleset terbawa arus sungai. Mayatnya ditemukan dikubangan jauh dari tempat jatuhnya.

Ya, Itulah sekilas cukilan cerita pertunjukan seni “Munding Dongkol”. Berdurasi 45 menit, seni teater ini merupakan satu bentuk kritik sosial terhadap maraknya alih fungsi lahan pertanian, perkebunan, daerah serapan air bersih menjadi pemukiman di kawasan Bandung Utara.

Sang sutradara sekaligus penulis naskah dari Komunitas Seni Bandoengmooi, Hermana HMT, menjelaskan isu alih fungsi ini selain menyebabkan berkurangnya sumber air bersih. Pun menyebabkan banjir di Kawasan Bandung Tengah, Timur, dan Selatan.

Di sisi lain, kebiasaan buruk masyarakat dan perusahaan membuang sampah atau limbah ke sungai pun menyebabkan air sungai kian tercemar dan terus mengancam kelangsungan hidup masyarakat di sekitaran sungai dan ekosistem makhluk hidup.

“Kami setiap tahun dan dalam setiap judul naskah yang diangkat selalu bersinggungan dengan masalah sosial baik tataran Bandung Raya ataupun Indonesia,” ungkap Hermana di sela latihan persiapan pertunjukan Munding Dongkol di Gedung Indonesia Menggugat, pada Kamis (21/9/2017).

Rencananya, pertunjukkan Teater “Munding Dongkol” ini akan digelar dalam rangka merayakan Hari Jadi kota Handung ke-207 melalui Program Seni Bandung #1. Sekaligus merayakan pula hari jadi komunitas seni Bandoengmooi ke-21.

Digelar Senin, 25 September 2017 pukul 19.30 WIB di CCL jalan Setiabudi, Bandung, sang sutradara Hemana HMT menjelaskan, terkait persiapan pertunjukan “Munding Dongkol” ini.

Pihaknya telah mempersiapkan proses produksi selama dua bulan. Adapun berkenaan dengan Gelaran Seni Bandung#1 rencana penggarapan ini sudah dibicarakan dari satu tahun yang lalu.

“Sebenernya proses produksi ini dipersiapkan dalam dua bulan,” tutur Hermana.

Representatif Mitos dan Isu Sosial Masyarakat

Melibatkan 31 pemeran sanggar dari kalangan Pelajar, mahasiswa, hingga karyawan pertunjukkan teater “Munding Dongkol” ini merupakan representatif mitos di Kawasan Bandung Raya.

Hermana mengatakan Munding Dongkol adalah mitos masyarakat Bandung tentang sesosok siluman penguasa air bernama Munding Dongkol. Siluman ini konon muncul di sungai-sungai kala intensitas air sedang naik atau besar. “Siluman ini konon dulu dianggap siluman yang berbahaya. Benar atau tidak itu cerita jaman saya waktu kecil dulu,” katanya.

Berkenaan dengan isu kekinian, Hermana pun, mengambil referensi ide dan konsep pertunjukkan ini didasarkan pada mitos lalu dikaitkan dengan isu sosial dan lingkungan hidup Bandung saat ini.

Bagi pria yang juga Alumni ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) Jurusan Teater ini konsep dari Siluman Munding Dongkol ini adalah simbolisasi dari pencemaran air, yakni sampah dan limbah pabrik di sungai-sungai sekitaran Bandung Raya.

“Ini bahan referensinya saya sangkutkan dengan masa kekinian. Kalau dulu ceritanya Munding Dongkol ini siluman, tapi jika disangkut pautkan dengan masalah lingkungan saat ini, bisa saja siluman air itu adalah pencemaran itu sendiri. Sampah, limbah pabrik, yang bisa menimbulkan marabahaya buat masyarakat sekitarnya,” beber Hermana.

Harapan dimunculkannya melalui petunjukan teater ini pun bagi Hermana adalah untuk menyadarkan masyarakat supaya bisa menjaga air dari kesediaannya.

Tak lupa, pertunjukan ini pun menurut Hermana adalah satu kritik pula bagi para pengmbang dan bagi aparat pemerintahan.

“Intinya walaupun ini dalam rangka hajat Kota Bandung, kita bukan harus selalu memuji-muji Bandung tapi patut pula mengkritisi bagai mana Bandung saat ini,” pungkas Hermana. **Oleh Eneng Reni Nuraisyah Jamil, pada Sep 21, 2017 | 18:50 WIB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here