Home Program Bandoengmooi Ngarak Cai Cimahi

Ngarak Cai Cimahi

533
0
SHARE

Oleh Hermana HMT

Secara asal-usul kata, dalam bahasa Sunda kirata, Cimahi terdiri dari dua suku kata yaitu Ci dan Mahi. Ci mengandung makna Cai (air) dan Mahi mengandung makna cukup. Jika disambungkan Cimahi mengandung arti selalu berkecukupan air.

Dalam bahasa Sansakerta kata Ci mengandung arti kilauan cahaya dari permukaan air  atau disebut juga energy dan Mahi mengandung arti bumi. Dalam Bahasa ini Cimahi mengandung arti pancaran cehaya bumi atau bisa disebut juga energi bumi.

Kata Ci juga ditemukan dalam bahasa Cina. Ci disini mengandung arti energi. Sedangkan kata Mahi juga ditemukan dalam bahasa Arab yaitu salah satu sebutan bagi Nabi Muhammad. Mahi bermakna yang menghapus.  Jika kita maknai dua suku kata ini, Cimahi bermakna sebagai energi pengahapus atau energi pembersih. Energi pembersih yang sering kita pakai adalah air.

Paparan asal usul kata menunjukan bahwa Cimahi tidak lepas dari unsur air. Bahkan secara geografis  Cimahi dilintasi atau terbelah oleh aliran sungai besar bernama sungai Cimahi dan dari nama sungai itulah nama Kota Cimahi diambil.

Sebagai kawasan Bandung Utara, Kota Cimahi bagian utara menjadi tempat serapan air. Maka tidak heran jika di Cimahi Utara banyak ditemukan sumber mata air dan berpengaruh pada perkembangan kebudayaan masyarakat di sekitarnya. Salah satunya dikawasan itu muncul budaya, ritual yang berhungan dengan air seperti Ngabungbang, memandikan anak yang akan di hitan, Hajat Lembur dan lainnya.

Berkembangnya zaman dan alih fungsi lahan pertanian jadi pemukiman, kebudayaan yang berhubungan dengan air kini sudah pudar. Seiring dengan lenyapnya puluhan sumber mata air di kawasan Cimahi, tidak terdengar lagi istilah seperti kerja bakti dalam betuk bersih-bersih sungai, bersih-bersih sumber mata air dan malamnya melakukan syukuran dengan menampilkan aneka ragam seni Sunda.

Efek dari lenyapnya puluhan sumber mata air dan kotornya air sungai di Kota Cimahi berimbas besar pada ketersedian air bersih. Cimahi yang mengandung makna berkecupan air, sekarang senantiasa kekurangan air bersih terutama disaat musim kemarau, dan di musim hujan air tidak terserap hingga sering terjadi banjir.

Selain secara teknik, salah satu penanggulangannya adalah membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya memulyakan air dan lingkungan dengan pendekatan budaya, menghidupkan kembali kearifan lokan salah satunya gelar Upacara Ngarak Cai Cimahi.

Ngarak Cai Cimahi adalah karnaval/helaran/kirab budaya membawa air. Setiap peserta kirab budaya Ngarak Cai berjumlah 20 orang, terdiri dari pembawa air, penari, pemusik, dan pengiring lainnya. Peserta kirab budaya Ngarak Cai berkumpul di suatu tempat, setelah diatur nomor urutnya, sambil melakukan aktarsi seni seluruh peserta kirab berjalan menuju pusat pertemuan. Kota Cimahi memiliki 15 kelurahan dan setiap kelurahan paling sedikit mewakitkan  1 perserta kirab, sehingga jumlah peserta kirab ada 15 dan paling sedikit melibatkan 300 orang.

Setelah air itu diarak kumudian dilakukan Upacara Adat Kawin Cai Cimahi. Kawin Cai adalah ungkapan budaya yang berkembang di beberapa wilayah di Jawa Barat. Inti dari upacara ini merupakan ungkapan rasa syukur tehadap pencipta alam semesta yang telah memberi kemakmuran bagi masyarakat terutama dalam hal tersedianya sumber mata air, sungai atau danau yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan kehidupan. Kawin Cai, juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dalam membangun kesadaran menjaga, memeliharan, dan merawat kelangengan kesedian air bersih, serta melstarikan lingkungan hidup sebagai tempat air tersipan secara alamiah.

 

Kawin Cai Cimahi merupakan prosesi memasukan dan menyatukan air yang dibawa dari berbagai wilayah (Kelurahan) ke dalam satu tempayan berukuran besar dan dibawahnya ada tiga titik saluran air yang tertutup. Sebelum memasukan air ke dalam tempayan, tahapannya dimulai dengan prosesi yang terdiri doa sebagai ucup syukur dan permohonan berkah, dilanjutkan persembahan tarian dan musik pembawa air (Nimang Cai,  Rengkong Gentong dan Bangbarongan). Kemudian air yang di bawa penari dimasukun ke dalam tempayan besar, dan air yang dibawa dari berbagai wilayah (Kelurahan) yang diarak dalam kirab, oleh Lurah atau yang mewakilinya di masukan juga pada tempayan besar yang sama. Setelah tempayan besar tersebut terisi air kemudian tiga pimpinan daerah (walikota, wakil walikota, dan sekda) atau yang mewakilinya sama-sama membuka tiga titik saluran air yang ada di tempayan tersebut, sehingga airnya mengalir ke bawah dan ditampung dalam tiga tempayan berukuran sedang. Walikota, wakil walikota dan Sekda dipersilahkan membasuh mukanya atau berwudu dengan air tersebut, sedangkan air yang ditampung di tiga tempayan secara simbolik oleh ketiga pimpinan daerah tersebut digunakan untuk menyiram pohon/tanaman yang telah disediakan. Prosesi Upacara Adat Kawin Cai usai, kemudian dilanjukan dengan pidato walikota atau yang mewakilinya dan secara simbolik walikota atau yang mewakilinya memberikan bibit pohon pada Lurah untuk ditanam di wilayah masing-masing. Kegiatan pun ditutup oleh pegelaran aneka ragam kesenian.

 

Besar harapan agenda ni menjadi agenda tahunan pemeritah Kota Cimahi, sehingga menjadi salah satu ciri khas dan keunggulan budaya Kota Cimahi.Tentunya untuk itu dibutuhkan kesadar bersama baik masyarakat dan pemerintah dalam mewujudkan Cimahi Maju, Agamis dan Berbudaya.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here