Home Pelatihan & Pertunjukan Ngarak Cai dan Ngalokat Cai Cimahi Jaga Lingkungan dengan Kearifan Lokal

Ngarak Cai dan Ngalokat Cai Cimahi Jaga Lingkungan dengan Kearifan Lokal

701
0
SHARE
Bangbarongan Cimahi

Kota Cimahi melekat dengan sebutan “Kota Tentara”, karena di kota ini banyak pusat pendidikan untuk militer, diantaranya; Pusdikarmed, Pusdikpengmilum, SPI Pusdikif, Pusdikjas, Pusdikpal, Pusdikbekang, Pusdikpom, dan Pusdikhub. Disamping pusat pendidikan militer Kota Cimahi pun menjadi markas, seperti; Brigif 15/Kujang II, Pussenarhanud Kodiklatad, Pussenarmed Kodiklatad, Kiban Yonzipur 3/Macan Kumbang,  Kodim 0609/Cimahi, Yonarmed 4/105 Parahyangan, Tepbek Cimahi, Koramil Cimahi, Rumkit Tk. II Kesdam III/Siliwangi,  Kesdim Cimahi, dan asrama militer yang jumlahnya terbilang banyak. Sehingga hapir sebagian besar Cimahi terutama sebagian Cimahi Tengah dan sebagian Cimahi Selatan digunakan oleh kegiatan militer.

Image militer yang cukup kuat itu Kota Cimahi menjadi kota yang terkesan tertutup. Tentu tidak, karena disekitarnya berkembang pula kehidupan lainnya, seperti berdirinya pabrik tekstil, perumahan rakyat biasa, pasar rakyat, pertokoan, perkantoran dan moll. Bahkan kawasan Cimahi Utara dan Cimahi Selatan lebih dominan pemukiman rakyat biasa, dan di kawasan itulah budaya lokal (Sunda) lebih hidup dan berkembang dengan baik. Kampung Adat Cireundeu merupakan bukti otentik, bahwa Kota Cimahi bukan Kota Militer semata, juga kota tempat tumbuh dan berkembang budaya lokal dengan berbagai keunikannya.

Dipandang dari asal-usul kata, dalam bahasa Sunda kirata, Cimahi terdiri dari dua suku kata yaitu Ci dan Mahi. Ci mengandung makna cai (air) dan mahi mengandung makna cukup. Jika disambungkan Cimahi mengandung arti selalu berkecukupan air.

Dalam bahasa Sansakerta kata Ci mengandung arti kilauan cahaya dari permukaan air atau energi dan Mahi mengandung arti bumi. Jika disambungkan Cimahi mengandung arti pancaran cahaya bumi atau bisa disebut juga energi bumi.

Kata Ci juga ditemukan dalam bahasa Cina. Ci disini juga mengandung arti energi. Sedangkan kata Mahi dalam bahasa Arab merupakan salah satu sebutan bagi Nabi Muhammad SAW. Mahi dalam Bahasa arab bermakna yang menghapus.  Jika kita maknai dua suku kata ini, Cimahi bermakna sebagai energi pengahapus atau energi pembersih. Apa salah satu energi pembersih yang sering kita pakai? Jawabanya adalah air.

Paparan asal usul kata menunjukan bahwa Cimahi tidak lepas dari unsur air. Bahkan secara geografis  Cimahi dilintasi atau terbelah oleh aliran sungai besar bernama sungai Cimahi dan dari nama sungai itulah nama Kota Cimahi diambil.

Sebagai kawasan Bandung Utara, Kota Cimahi bagian utara menjadi tempat serapan air. Maka tidak heran jika di Cimahi Utara banyak ditemukan sumber mata air dan berpengaruh pada perkembangan kebudayaan masyarakat di sekitarnya. Salah satunya dikawasan itu muncul ritual yang berhungan dengan air, yaitu Ngabungbang. Ritual ini berhungan dengan pencucian perkakas yang dianggap pusaka dan masyarakat melakukan madi tengah malam di tujuh sumber mata air.

Berkembanya zaman dan alih fungsi lahan pertanian jadi pemukiman, kebudayaan yang berhubungan dengan air kini sudah pudar. Ritual Ngabungbang di Cimahi tidak terdengar lagi seiring dengan lenyapnya puluhan sumber mata air di kawasan Cimahi Utara. Masyarakat tidak lagi melakukan kerja bakti dalam betuk bersih-bersih sungai, bersih-bersih sumber mata air dan malamnya melakukan syukuran dengan menampilkan aneka ragam seni Sunda.

Efek dari lenyapnya puluhan sumber mata air dan kotornya air sungai di Kota Cimahi berimbas besar pada ketersedian air bersih. Cimahi yang mengandung makna berkecupan air, sekarang senantiasa kekurangan air bersih terutama disaat musim kemarau, dan di musim hujan air tidak terserap hingga sering terjadi banjir.

Dalam upaya menghidari dari kelangkaan air bersih dan bencana banjir, tentu diperlukan upaya penanggulangannya. Selain secara teknik, salah satu penanggulangannya adalah membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya memulyakan air dan lingkungan, yakni dengan pendekatan budaya, menghidupkan kembali kearifan lokan yang pernah tumbuh.  Diantara sekian banyak kearifan lokal yang tumbuh di tanah Pasundan ini adalah seni helaran atau Kirab Budaya Ngarak Cai dan ritual Ngalokat Cai dari Kota Cimahi.

Kirab budaya Ngarak Cai merupakan bagian dari upacara adat atau ritual Kawin Cai. Nyakni sebuah upacara yang bertujuan memulyakan air dan membangun kesadaran masyarakat betapa pentingnya air bersih bagi kehidupan. Air sebagai media menyatukan pikiran dan rasa (Asah, Asih, Asuh) dalam hal jaga lemah (tanah), jaga cai (air), jaga budaya dan jaga tanah air.

Jaga Lemah = Pelihara Tanah, sebuah ajakan pada masyarakan untuk senantiasa memelihara tanah agar terhindar dari berbagai percemaran atau bencana dan memelihara tanah dengan menanam puhon untuk menghasilkan oksigen yang bersih dan menyerap udara yang kotor dan menyimpan air bersih.

Jaga Cai = Pelihara Air, sebuah ajakan pada masyarakat untuk senantiasa memelihara kebersiahn air tanah, memelihara sumber mata air yang masih ada dan memelihara kebersihan sungai agar tidak tercemar oleh limbah.

Jaga Budaya = Perlihara Budaya, sebuah ajakan pada masyarakat untuk senantiasa melestarikan budaya lokal yang tumbuh agar budaya asing tidak sesuia dengan adab budaya bangsa tidak mendominasi dalam kehidupan masyarakat.

Jaga Tanah Air = menjaga kebenakaan, menjaga persatuan dalam satu bangsa dan satu tanah air.

Bangbarongan Munding Dongkol

Dahulu masyarakat di Kota Cimahi terutama yang hidup berdekatan dengan aliran sungai, mengenal mitos Jurig Cai. Yaitu mahluk gaib yang hidup di air dan dianggap berwatak jahat.  Mahluh itu termasuk mahluk yang jarang muncul, namun sekali muncul, konon katanya suka menarik orang yang sedang mandi atau berenang kedasar sungai dan mengakibatkan orang itu meninggal dunia. Jurig Cai digambarkan oleh orang-orang dalam wujud yang menyeramkan menyerupai kepala binatang seperti buaya, ular, kerbau atau berwujud manusia buruk rupa. Namun ada pula yang menggambarkan menyerupai gulungan samak (tikar) dan orang menyebutnya Lulub Samak. Adalah gambarat dari gelombang air yang mengalir sangat deras dan berputar dikubangan air terjun dan membuat benda-benda atau orang yang masuk dalam kubangan itu turut terbawa berputar.

Gambaran mahluk gaib yang menyerupai kerbau, masyarakat menyebutnya siluman Munding Dongkol. Mahluk gaib penguasa sungai dengan tubuh yang gempal, tanduk menjulur ke ke depan, sorot mata yang tajam dan menyeramkan. Kemunculannya dipercaya sangat membahayakan. Mahluk itu muncul menjelang mangrib (senja) dan selalu mengejar orang yang melihatnya. Disisi lain siluman Munding Dongkol juga sering muncul ketika aliran sungan sedang meluap. Kemunculannya menjadi tanda bahwa di kawasan tersebut bakal terjadi banjir besar.

Mitos Lulub Samak dan Siluman Munding Dongkol ini menjadi bagian yang tidak tepisahkan dari perkembangan budaya masyarakat Kota Cimahi terutama di kampung Babakan Loa RW 07 Kelurahan Pasirkaliki, Kecamatan Cimahi Utara. Salah satunya memberi inspirasi hingga terlahir sebuah karya seni yang disebut Bangbarongan Munding Dongkol.

Bangbarongan adalah sejenis seni helaran atau seni arak-arakan dan biasanya digerar pada kegiatan kirab budaya atau karnaval budaya. Sekitar tahun 1970-an sampai dengan pertengahan tahun 1980-an seni ini sering digelar pada peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Tiap tanggal 17 Agustus masyarakat Babakan Loa Kelurahan Pasirkaliki, Kecamatan Cimahi Utara senantiasa melakukan helaran/kirab budaya. Berjalan kaki menuju lapangan upacara di lapangan Sriwijaya Cimahi (sekarang menjadi Pasar Antri), dengan musik yang terus mengiringi tidak membuat lelah para peserta helaran yang membawa mumundingan (kerbau butan) dengan bahan dari injuk, pembawa dongdang (jempana) berisikan hasil pertanian, pemakai barong (topeng), dan pengiring lainnya. Sepanjang jalan semuanya menari dan bergembira merayakan hari kemerdekaan RI. Selain digelar pada kegiatan agustusan helaran Bangbarongan juga sangat erat sekali dengan ritual Kawin Cai. Seni ini menjadi pengiring pembawa air atau disebut upacara ngarak cai, sebelum ritual/upacara adat Ngalokat Cai dilakukan.

Ritual Ngalojat Cai

Ngalokat Cai berupa upacara adat atau ritual penyatuan air dari beberapa sumber mata air dalam sumur atau satu wadah. Yakni sebuah ekspresi budaya dalam upaya perlestarian air tawar dan lingkungan hidup. Sejenis ritual ungkapan rasa syukur pada penguasa alam semesta yang telah memberi kesuburan pada tanah dan berkecukupan air. Di dalamnya juga mengandung filsofi masyarakat Sunda sareudeuk saigel sabobot sapihanean (gotong royong) dalam menjaga persatuan, menjaga kesatuan, mejaga tanah, menjaga air dan menjaga budaya bangsa dan menjaga bangsanya. Menjadi media komunikasi, ajang silaturahmi antar masyarakat dan pemangku kebijakan dalam menyatukan tekad, ucap dan lampah (rasa, pikiran dan tindakan). Kawin Cai juga menjadi mediasi menyatukan manusia dengan alamnya, menggugah kesadaran bahwa hakikat manusia berasal dari sari pati air. Secara pisik dalam tubuh manusia dipenuhi unsur air dan selama hidup manusia senantiasa bergantung pada air.**(Hermana HMT)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here