Home Berita Seni Bandoengmooi Inisiasi Kirab Budaya Ngarak Cai Cimahi

Bandoengmooi Inisiasi Kirab Budaya Ngarak Cai Cimahi

325
0
SHARE
Pertunjukan Ritual Air oleh Bandoengmooi

BANDOENGMOOI – Ditelusuri dari asal-usul kata, dalam bahasa Sunda, Cimahi terdiri dari dua suku kata yaitu Ci dan Mahi. Ci mengandung makna cai (air) dan mahi mengandung makna cukup. Jika disambungkan Cimahi mengandung arti selalu berkecukupan air. Dalam bahasa Sansakerta kata Ci mengandung arti kilauan cahaya dari permukaan air atau energi dan Mahi mengandung arti bumi. Jika disambungkan Cimahi mengandung arti pancaran cehaya bumi atau bisa disebut juga energi bumi. Kata Ci juga ditemukan dalam bahasa Cina. Ci disini juga mengandung arti energi. Sedangkan kata Mahi dalam bahasa Arab merupakan salah satu sebutan bagi Nabi Muhammad. Mahi dalam Bahasa arab bermakna yang menghapus.  Jika kita maknai dua suku kata ini, Cimahi bermakna sebagai energi pengahapus atau energi pembersih. Apa salah satu energi pembersih yang sering kita pakai? Jawabanya adalah air.

Sebagai kawasan Bandung Utara, Kota Cimahi bagian utara menjadi tempat serapan air. Maka tidak heran jika di Cimahi Utara banyak ditemukan sumber mata air dan berpengaruh pada perkembangan kebudayaan masyarakat di sekitarnya. Salah satunya dikawasan itu muncul ritual yang berhungan dengan air, yaitu Ngabungbang. Ritual ini berhungan dengan pencucian perkakas yang dianggap pusaka dan masyarakat melakukan madi tengah malam di tujuh sumber mata air.

Ritual Kawin Cai Tahun 2014 di Plaza Rakyat Cimahi oleh Bandoengmooi

Berkembangnya zaman dan alih fungsi lahan pertanian jadi pemukiman, kebudayaan yang berhubungan dengan air kini sudah pudar. Ritual Ngabungbang di Cimahi tidak terdengar lagi seiring dengan lenyapnya puluhan sumber mata air di kawasan Cimahi Utara. Masyarakat tidak lagi melakukan kerja bakti dalam betuk bersih-bersih sungai, bersih-bersih sumber mata air dan malamnya melakukan syukuran dengan menampilkan aneka ragam seni Sunda.

Efek dari lenyapnya puluhan sumber mata air dan kotornya air sungai di Kota Cimahi berimbas besar pada ketersedian air bersih. Cimahi yang mengandung makna berkecupan air, sekarang senantiasa kekurangan air bersih terutama disaat musim kemarau, dan di musim hujan air tidak terserap hingga sering terjadi banjir.

Dalam upaya menghidari dari kelangkaan air bersih dan bencana banjir, tentu diperlukan upaya penanggulangannya. Selain secara teknik, salah satunya adalah membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya memulyakan air dan lingkungan, yakni dengan pendekatan budaya, menghidupkan kembali kearifan lokan yang pernah tumbuh.  Diantara sekian banyak kearifan lokal yang tumbuh di tanah Pasundan ini adalah seni helaran atau Kirab Budaya Ngarak Cai dan ritual Ngalokat Cai.

Kirab budaya Ngarak Cai merupakan bagian dari upacara adat atau ritual Ngalokat Cai. Nyakni sebuah upacara yang bertujuan memulyakan air dan membangun kesadaran masyarakat betapa pentingnya air bersih bagi kehidupan. Air sebagai media menyatukan pikiran dan rasa (Asah, Asih, Asuh) dalam haljaga lemah (tanah), jaga cai (air), dan jaga budaya.

Jaga Lemah = Pelihara Tanah, sebuah ajakan pada masyarakan untuk senantiasa memelihara tanah agar terhindar dari berbagai percemaran atau bencana dan memelihara tanah dengan menanam puhon untuk menghasilkan oksigen yang bersih dan menyerap udara yang kotor dan menyimpan air bersih.

Jaga Cai = Pelihara Air, sebuah ajakan pada masyarakat untuk senantiasa memelihara kebersiahn air tanah, memelihara sumber mata air yang masih ada dan memelihara kebersihan sungai agar tidak tercemar oleh limbah.

Jaga Budaya = Perlihara Budaya, sebuah ajakan pada masyarakat untuk senantiasa melestarikan budaya lokal yang tumbuh agar budaya asing tidak sesuia dengan adab budaya bangsa tidak mendominasi dalam kehidupan masyarakat.

Gambaran mahluk gaib yang menyerupai kerbau, masyarakat menyebutnya siluman Munding Dongkol. Mahluk gaib penguasa sungai dengan tubuh yang gempal, tanduk menjulur ke ke depan, sorot mata yang tajam dan menyeramkan. Kemunculannya dipercaya sangat membahayakan. Mahluk itu muncul menjelang mangrib (senja) dan selalu mengejar orang yang melihatnya. Disisi lain siluman Munding Dongkol juga sering muncul ketika aliran sungan sedang meluap. Kemunculannya menjadi tanda bahwa di kawasan tersebut bakal terjadi banjir besar.

Mitos siluman Munding Dongkol ini menjadi bagian yang tidak tepisahkan dari perkembangan budaya masyarakat Kota Cimahi terutama di kampong Babakan Loa RW 07 Kelurahan Pasirkaliki. Salah satunya memberi inspirasi hingga terlahir sebuah karya seni yang disebut Bangbarongan Munding Dongkol.

Bangbarongan Munding Dongkol adalah sejenis seni helaran dan seni arak-arakan dan biasanya digerar pada kegiatan kirab budaya atau karnaval budaya. Seni ini sering digelar pada peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Tiap tanggal 17 Agustus masyarakat Babakan Loa Kelurahan Pasirkaliki, Kecamatan Cimahi Utara senantiasa melakukan helaran/kirab budaya. Berjalan kaki menuju lapangan upacara di lapangan Sriwijaya Cimahi (sekarang menjadi Pasar Antri), dengan musik yang terus mengiringi tidak membuat lelah para peserta helaran yang membawa mumundingan (kerbau butan) dengan bahan dari injuk, pembawa dongdang (jempana) berisikan hasil pertanian, pemakai barong (topeng), dan pengiring lainnya. Sepanjang jalan semuanya menari dan bergembira merayakan hari kemerdekaan RI. Selain digelar pada kegiatan agustusan helaran Bangbarongan juga sangat erat sekali dengan ritual Ngalokat Cai. Seni ini menjadi pengiring pembawa air atau disebut kirab ngarak cai, sebelum ritual Ngalokat Cai dilakukan.

Ngalokat Cai berupa upacara adat atau ritual penyatuan air dari beberapa sumber mata air dalam satu sumur atau tempat menyimpan air. Yakni sebuah ekspresi budaya dalam upaya perlestarian air tawar dan lingkungan hidup. Sejenis ritual ungkapan rasa syukur pada penguasa alam semesta yang telah memberi kesuburan pada tanah dan berkecukupan air. Di dalamnya juga mengandung filsofi masyarakat Sunda sareudeuk saigel sabobot sapihanean (gotong royong) dalam menjaga persatuan, menjaga kesatuan, mejaga tanah, menjaga air dan menjaga budaya bangsa. Menjadi media komunikasi, ajang silaturahmi antar masyarakat dan pemangku kebijakan dalam menyatukan pikiran dan rasa.

Kirab Budaya Ngarak Cai Tahun 2017 oleh Bandoengmooi

Kirab Ngarak Cai adalah karnaval budaya pembawa air. Peserta kirab terdiri dari pembawa air, penari, pemusik, pemerintah setempat dan pengiring lainnya. Mereka berkumpul di suatu tempat, melakukan aktraksi seni sambil berjalan menuju pusat pertemuan, tempat dilakukannya ritual Ngalokat Cai.

Pada kegiatan ini diharapkan peserta kirab bukan hanya dari satu kelompok kesenian, namun banyak kelompok seni yang terlibat, minimal satu kelompok seni mewakili tiap Kelurahan. Kota Cimahi memiliki 15 Kelurahan artinya ada 15 kelompok (satu kelompok terdiri dari 20 orang) bisa turut andil dalam kirab sebagai pengiring pembawa air dari tiap kelurahan. Lebih luasnya peserta kirab Ngarak Cai ini dapat melibatkan komunitas budaya/ pemerintah daerah Kabupaten/Kota se Jawa Barat.

Ngalokat Cai Cimahi adalah upacara atau prosesi memasukan dan menyatukan air yang dibawa dari bebera sumber mata air di berbagai wilayah (Kelurahan) ke dalam satu tempayan berukuran besar dan dibawahnya ada tiga titik saluran air yang tertutup. Sebelum memasukan air ke dalam tempayan, tahapannya dimulai dengan prosesi yang terdiri doa sebagai ucup syukur dan permohonan berkah, dilanjutkan persembahan tarian dan musik pembawa air (Nimang Cai, Rengkong Gentong dan Bangbarongan).

Kemudian air yang di bawa penari dimasukun ke dalam tempayan besar, dan air yang dibawa dari berbagai wilayah (Kelurahan) yang diarak dalam kirab, oleh Lurah atau yang mewakilinya di masukan juga pada tempayan besar yang sama. Setelah tempayan besar tersebut terisi air kemudian tiga pimpinan daerah (walikota, wakil walikota, dan sekda) atau yang mewakilinya sama-sama membuka tiga titik saluran air yang ada di tempayan tersebut, sehingga airnya mengalir ke bawah dan ditampung dalam tiga tempayan berukuran sedang. Tiga saluran air dan tiga wadah penampung air adalah simbolisasi dari kehidupan tiga wilayah di Kota Cimahi.

Kirab Bangbarongan Munding Dongkol 2019 – Bandoengmooi

Walikota, wakil walikota dan Sekda dipersilahkan membasuh mukanya atau berwudu dengan air tersebut, sedangkan air yang ditampung di tiga tempayan secara simbolik oleh ketiga pimpinan daerah tersebut digunakan untuk menyiram pohon/tanaman yang telah disediakan. Prosesi Ritual Kawun Cai usai, kemudian dilanjukan dengan pidato walikota atau yang mewakilinya dan secara simbolik walikota atau yang mewakilinya memberikan bibit pohon pada Lurah untuk ditanam di wilayah masing-masing. Kegiatan pun ditutup dengan doa dan dilanjutkan pegelaran aneka ragam kesenian.

Ngalokat Cai  Jawa Barat melibatkan komunitas budaya/pemerintah daerah Kabupaten/Kota se Jawa Barat, prosesinya tidak jauh beda dengan Ritual Ngalokat Cai Cimahi. Menjadi pembada, bukan saja melibatkan para petinggi pemerintah daerah setempat, juga melibatkan kehadiran Gubernur Jawa Barat atau yang mewakilinya.

Perhelatan budaya ini diinisiasi oleh komunitas seni Bandoengmooi. Rencananya siap digelar dalam rangka memperingati hari jadi Kota Cimahi, dilaksanakan tanggal 13 – 14 Juni 2020 dengan judul besar “Festival Air 2020” di Jl. Raden Demang dan Plaza Rakyat, Komplek Pemkot Kota Cimahi. Adapun susunan acara, diantaranya; Kirab Budaya Ngarak Cai, Ritual kawin Cai, Ngubek Cai (festival tangkap ikan di sungai), Festival Pemainan Air, Festival Kuliner, Pameran Produk Kreatif dan Gelar Aneka Ragam Seni.

Kenapa pilihan tempat kegiatan budaya ini senantiasa di kawasan Pemkot Kota Cimahi? Besar harapan kawasan lembah Cihanjuang yang merupakan bagian dari Desa Wisata Cihajuang (Dewi Hanjuang) bisa direvitalisasi menjadi kawasan wisata air. Mengingat disana terdapat sungai Cimahi yang bisa dibilang sungai terbesar di Cimahi dan memiliki keistimewaan tersendiri, bahkan di kawasan tersebut terdapat laboratorium Pembangkit Listrik Mikro Hidro sebagai tempat penelitian dan wisata edukasi.*** HERMANA HMT Ketua Bandoengmooi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here