Home Artikel Seni Metafor Munding Dongkol di Seni Bandung

Metafor Munding Dongkol di Seni Bandung

5838
0
SHARE

Oleh: Peri Sandi Huizche, Apresiator Teater Seni Bandung #1

TRIBUNJABAR.CO.ID – Senin malam (25/9/2017), Kelompok Bandoengmooi menyajikan pentas perdana dari total 24 pertunjukan teater di Seni Bandung #1.

“Ini tanggal baik untuk kado ulang tahun Bandung yang ke 207” pungkas Hermana HMT selaku Sutradara ketika menyemangati para pemainnya.

Meski ruang budaya Celah Celah Langit (CCL) Ledeng-Bandung, sempat diguyur hujan, para penonton berdatangan, satu per satu tempat duduk terisi, lama-lama mereka berdesakan bahkan ada juga yang berdiri tak kebagian.

Rupanya hujan tak menyurutkan semangat untuk tetap menyaksikan peristiwa yang akan dipanggungkan kemudian.

Munding Dongkol dan Isu Sosial

Cerita terurai ketika warga desa mulai keluh-kesah akibat sebagain warga telah menjual lahannya kepada investor untuk dijadikan pabrik dan hotel. Konon pembuangan limbah pabrik menjadi faktor utama terjadinya wabah-penyakit dan sulitnya air bersih, sedangkan sumur artesis yang dibuat oleh hotel dan perumahan elit menjadi penyebab keringnya sumber air disetiap rumah warga.

Kelompok Bandoengmooi menyajikan pentas perdana dari total 24 pertunjukan teater di Seni Bandung #1 di ruang budaya Celah Celah Langit (CCL) Ledeng-Bandung, Senin malam (25/9/2017). Cerita yang disuguhkannya berjudul Munding Dongkol.
Kelompok Bandoengmooi menyajikan pentas perdana dari total 24 pertunjukan teater di Seni Bandung #1 di ruang budaya Celah Celah Langit (CCL) Ledeng-Bandung, Senin malam (25/9/2017). Cerita yang disuguhkannya berjudul Munding Dongkol. (ISTIMEWA)

Kejadian diperkeruh oleh para mafia tanah dalam memanipulasi surat-surat kepemilikan. Peristiwa itu kemudian melahirkan ketidak berdayaan sebagian warga dalam upaya mempertahankan tanahnya, ternaknya, bahkan kebudayanya.

“Untuk apa punya kerbau, bila rumput dan ladang habis-ludes diganti pohonan beton. Memelihara Kerbau dalam keadaan seperti ini hanya menyengsarakan hewan peliharaan, lebih manfaat dijual, sukur-sukur dagingnya bisa termakan,” begitulah kira-kira dialog yang terlontar dari tokoh yang bernama Mang Hermana.

Peristiwa lain muncul, seorang gadis bernama Euis disiarkan hilang setelah melamar kerja ke Pabrik yang limbahnya dibuang ke sungai, sebagian warga menuding bahwa Euis ditumbalkan kepada siluman Munding Dongkol.

Warga dan pemerintah desa bersuara, menggugat kenyataan pahit, membentur dinding jumawa penguasa yang suka berkelit dengan segala cara. Demi harta manusia akan melakukan segalanya, mereka tidak sungkan merusak bahkan membunuh. Hilang kesadarannya, hilang pula kemanusiaannya.

Mungding Dongkol dan Tawaran Pemanggungan

Pertunjukan berdurasi 45 menit, menyita pandangan penonton untuk terus menyimak kejadian-kejadian yang tersaji di panggung. Sutradara yang akrab dipanggil Mang Hermana, menjalin pengadegan dengan bentuk visual yang artistik.

Beliau menghadirkan properti Munding, Barongan, dan kostum-makeup yang sangat menohok (properti serupa karnaval) dalam memunculkan karakter tokoh. Multymedia-lampu dihadirkan sebagai pemisah ruang sekaligus ornamen penguat adegan. Musik, nyanyian dan komposisi gerak yang tersaji adalah upaya dinamisasi struktur pertunjukan.

Sepengakuan sutradara, cerita Munding Dongkol terinspirasi dari mitos yang konon dulu sempat terdengar di seantero Jagat Bandung, sebagai simbol kesuburan, kesejahteraan dan penjaga sungai.

Munding Dongkol sebagai mitos dan sifatnya diwariskan/diturunkan secara masif, tak jarang referen awal bermuatan sakral, karena di kebudayaan Sunda lama, dalam cerita Pantun khsusnya, nama-nama Munding (Kerbau) berulang disebut dan posisinya mendapatkan tempat yang istimewa, seperti Mundinglaya Dikusumah, Arya Munding Jamparing, Munding Jalingan, Munding Liman, Munding Wangi, Munding Jaya dll. Hewan munding dalam konteks paradigmatik Sunda lama bisa segaris-lurus dengan kesucian hewan lain seperti gajah, sapi, ular, burung dan hewan lainnya yang dianggap suci.

Berbeda dengan dengan apa yang dihadirkan Mang Hermana, Munding Dongkol justru dibentuk sebagai upaya desakralisasi mitos namun sekaligus mendongkrak sisi lain manusia yang ironis. “Siluman yang sebenarnya adalah sampah/limbah yang dibuang sembarangan (ke sungai). Dan Euis meninggal bukan karena ditumbalkan, melainkan karena terpeleset-jatuh”. Sampai disini pertunjukan mengajak penonton untuk tetap berpikiran jernih seperti air bersih yang diharapankan semua warga.

Kelompok Bandoengmooi menyajikan pentas perdana dari total 24 pertunjukan teater di Seni Bandung #1 di ruang budaya Celah Celah Langit (CCL) Ledeng-Bandung, Senin malam (25/9/2017). Cerita yang disuguhkannya berjudul Munding Dongkol.
Kelompok Bandoengmooi menyajikan pentas perdana dari total 24 pertunjukan teater di Seni Bandung #1 di ruang budaya Celah Celah Langit (CCL) Ledeng-Bandung, Senin malam (25/9/2017). Cerita yang disuguhkannya berjudul Munding Dongkol. (ISTIMEWA)

Tawaran menarik lainnya; para pemain (koor) menganti kostumnya dan properti di atas panggung bahkan ia menjadi komposisi gerak yang rampak dan rapi, didukung satu penari yang gemulai (Putri). Pijakan kesenian longser menjadi kuat. “Bodor” yang keluar dari para pemain (Jajang, Hafidz, Dio, Ajeng dan Ahmad Afandi) mengacu pada timing (ketepatan mengeluarkan dialog atau aksi panggung) yang baik, sehingga bodoran terasa lebih mendidik dan asyik, namun sesekali muncul bodoran klasik seperti mundur berlainan arah kemudian beradu, menjadi kelucuan yang tetap mengeluarkan gelak-tawa para penonton.

Di akhir cerita ketika tokoh Euis digotong (mati), semua pemain bernyanyi, kemudia seorang tokoh (Wiki) tampil beserta dialog pamungkas yang menjadi resolusi, bentuknya mirip ajakan pengkhotbah dan berusaha merangkum seluruh kejadian.

Peristiwa sampah, limbah, sulit air bersih dan pembangunan semena-mena, harus menjadi perhatian semua kalangan, bila perlu isu lingkungan harus terus didengungkan dengan cara yang menohok ke jantung persoalan Bandung yang setia dilanda banjir dan penanganan sampah.

“Air adalah sumber kehidupan | Tiada air tiada kehidupan | Semua makhluk pasti butuh air | Demi kelangsungan kehidupan”

Kelompok Bandoengmoii asuhan Hermana HMT kerap menyelenggarakan pertunjukan yang bertema lingkungan, kritik sosial bahkan mereka rutin menyelenggarakan Upacara Adat Hajat Cai pada bulan Juli/Agustus. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here