Home Berita Seni Festival Air 2020-Kirab Budaya Ngarak Cai dan Ritual Ngalokat Cai Cimahi

Festival Air 2020-Kirab Budaya Ngarak Cai dan Ritual Ngalokat Cai Cimahi

410
0
SHARE

Komunitas Budaya Bandoengmooi bersama Dewan Kebudayaan Kota Cimahi, atas dukungan Dinas Kebudayaan Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga Kota Cimahi dan Bantuan Pemerintah Fasilatasi Bidang Kebudayaan (FBK) 2020 Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kubudayaan RI siap gelar Festival Air 2020 – Kirab Budaya Ngarak Cai dan Ritual Ngalokat Cai Cimahi, 24-25 Oktober 2020.

Perhelatan budaya yang disemarakan juga oleh kegiatan pameren seni rupa, pertunjukan teater, tari, musik kolaborasi etnis, permainan tradisonal, dramatisasi manuskrip dan dongeng bertema air dalam sajian virtual budaya air (media daring) dengan sejumlah titik pengambilan lokasi, di 15 kelurahan Kota Cimahi, Studio Mini Bandoengmooi, Plaza Rakyat Kota Cimahi dan Studio Mozi Workshop.

Latar Belakang Kegiatan

Dipandang dari asal-usul kata, dalam bahasa Sunda, Cimahi terdiri dari dua suku kata yaitu Ci dan Mahi. Ci mengandung makna cai (air) dan mahi mengandung makna cukup. Jika disambungkan Cimahi mengandung arti berkecukupan air.

Dalam bahasa Sansakerta kata Ci mengandung arti kilauan cahaya dari permukaan air atau energi dan Mahi mengandung arti bumi. Jika disambungkan dalam bahsa sersebu mengandung arti pancaran cehaya bumi atau bisa disebut juga energi bumi. Kata Ci juga ditemukan dalam bahasa Cina. Ci disini juga mengandung arti energi. Sedangkan kata Mahi dalam bahasa Arab merupakan salah satu sebutan bagi Nabi Muhammad. Mahi dalam Bahasa arab bermakna yang menghapus.  Jika kita maknai dua suku kata dari dua bahasa ini, Cimahi bermakna sebagai energi pengahapus atau energi pembersih. Salah satu energi pembersih yang sering kita pakai adalah air.

Sebagai kawasan Bandung Utara, Kota Cimahi bagian utara menjadi tempat serapan air. Maka tidak heran jika di Cimahi Utara banyak ditemukan sumber mata air dan berpengaruh pada perkembangan kebudayaan masyarakat di sekitarnya. Salah satunya dikawasan itu muncul ritual yang berhungan dengan air, yaitu Ngabungbang. Ritual ini berhungan dengan pencucian perkakas yang dianggap pusaka dan masyarakat melakukan mandi tengah malam di tujuh sumber mata air. Selain Ngabungbang juga berkembang kebudayaan lain yang erat kaitannya dengan air.

Berkembangnya zaman dan alih fungsi lahan pertanian jadi pemukiman, kebudayaan yang berhubungan dengan air kini sudah pudar. Ritual Ngabungbang di Cimahi tidak terdengar lagi seiring dengan lenyapnya puluhan sumber mata air di kawasan Cimahi Utara. Masyarakat tidak lagi melakukan kerja bakti dalam betuk bersih-bersih sungai, bersih-bersih sumber mata air dan malamnya melakukan syukuran dengan menampilkan aneka ragam seni Sunda.

Efek dari lenyapnya puluhan sumber mata air dan kotornya air sungai di Kota Cimahi berimbas besar pada ketersedian air bersih. Cimahi yang mengandung makna berkecupan air, sekarang senantiasa kekurangan air bersih terutama disaat musim kemarau, dan di musim hujan air tidak terserap hingga sering terjadi banjir.

Dalam upaya menghindari dari kelangkaan air bersih dan bencana banjir, tentu diperlukan upaya penanggulangannya. Selain secara teknik, salah satu penanggulangannya adalah membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya memulyakan air dan lingkungan, yakni dengan pendekatan budaya, menghidupkan kembali kearifan lokan yang pernah tumbuh.  Diantara sekian banyak kearifan lokal yang tumbuh di tanah Pasundan ini adalah seni helaran atau Kirab Budaya Ngarak Cai dan Ritual Ngalokat Cai.

Tujuan Kegiatan

Festival Air yang di dalamnya melingkupi Kirab Budaya Ngarak Cai, merupakan bagian dari upacara adat atau Ritual Ngalokat Cai. Nyakni sebuah upacara yang bertujuan memulyakan air dan membangun kesadaran masyarakat betapa pentingnya air bersih bagi kehidupan. Air sebagai media menyatukan pikiran dan rasa (Asah, Asih, Asuh) dalam hal jaga lemah (tanah), jaga cai (air), dan jaga budaya. Sareundeuk saigel sabobot sapihanean (ringan sama di jinjing berat sama dipikul/gotong royong) bangun kebersamaan.

Jaga Lemah = Pelihara Tanah, sebuah ajakan pada masyarakan untuk senantiasa memelihara tanah agar terhindar dari berbagai percemaran atau bencana dan memelihara tanah dengan menanam puhon untuk menghasilkan oksigen yang bersih dan menyerap udara yang kotor dan menyimpan air bersih.

Jaga Cai = Pelihara Air, sebuah ajakan pada masyarakat untuk senantiasa memelihara kebersiahn air tanah, memelihara sumber mata air yang masih ada dan memelihara kebersihan sungai agar tidak tercemar oleh limbah.

Jaga Budaya = Perlihara Budaya, sebuah ajakan pada masyarakat untuk senantiasa melestarikan keragaman budaya lokal yang tumbuh agar budaya asing tidak sesuia dengan adab budaya bangsa tidak mendominasi dalam kehidupan masyarakat

Fesival Air – Kirab Budaya Ngarak Cai dan Ritual Ngalokat Cai tidak dilakukan oleh satu kelompok tertentu, namun kegiatan ini melibatkan unsur pemerintah dan masyarakat pelaku budaya. Mereka semuan diwajibakan membawa air bersih dari wilayahnya masing-masing dan diarak bersama menuju satu tempat dengan diringi beragam seni dalam bentuk kirab budaya. Lalu air yang dibawa dari berbagai wilayah itu disatukan dalam satu tempayan besar atau sumur sebagai tanda beneka tunggal ika, walau berbeda-beda tetap satu, satu nusa, satu bangsa, satu tanah air yaitu Indonesia.

Fesival Air – Kirab Budaya Ngarak Cai dan Ritual Ngalokat Cai menjadi media komunikasi atau ajang silaturahmi antar masyarakat dan pemerintah daerah dalam menyatukan pikiran dan rasa. Multi efek dari kegiatan ini diharapkan dapat merangsang kreatifitas, tingkatkan produktifitas, kunjungan wisata dan memajukan ekonomi kreatif di Kota Cimahi. Namun lebih penting dari perhelatan budaya ini adalah lahirnya kesadaran seluruh elemen masyarakat betapa pentingnya memulayakan air, kerena air adalah sumber kehidupan. Maka menjadi penting pula menjaga kebersihan air dan lingkungannya dari berbagai pencemaran. Tanah terpelihara, air terpelihara dan budaya terpelihara.

Disisi lain, bidang keduayaan yang lebih mengedepankan kreativitas secara kolektif. Masa pandemi Covid-19 aktifitas pelakunya menjadi sangat terbatas, bahkan banyak yang tidak bisa berkarya. Efeknya, lebih dari 4 bulan mereka kehilangan sumber mata pencaharian yang sebagian besar pendapatannya bersifat harian. Puluhan juta hingga ratusan juta rupiah mereka merugi kerena pembatalan undangan dan pemberhentian penyelenggaraan kegiatan budaya.

Jika pada masa pandemik Covid-19 lapangan pekerjaan dan sumber pendapatannya menjadi tertutup, tentu berdapak buruk bagi kelangsungan hidup mereka, keluarga, dan banyak orang yang terlibat di dalamnya. Uluran tangan siapa lagi jika bukan dari sesama manusia. Terutama kehadiran pemerintah sebagai pengayom masyarakatnya, sangat ditunggu-tunggu dalam kondisi komunitas/pelaku budaya yang sedang harap-harap cemas hadapi kesinambungan hidupnya.

Penanganan dampak ekonomi dan penyediaan jaring pengaman sosial yang menjadi prioritas pemerintah selain penanganan kesehatan diharapkan dapat menyentuh bidang kebudayaan terutama untuk penangulangan perekonomian komunitas/pelaku budaya kelas menegah ke bawah yang saat ini dapat dikatagorikan sebagai kelompok masyarakat terdapak dan bisa disebutkan sebagai masyarakat miskin baru.

Dengan terselenggaranya Festival Air- Kirab Budaya Ngarak Cai, Ritual Ngalokat Cai, Pemeran Lukisan Juga Pertujukan Kreasi Baru secara virtual/daring menjadi bagian penting dalam penanganan dampak ekonomi pada masa era baru (New Normal) Pandemi Covid-19. Diharapakan pelaku budaya yang bernaung di berbagai komunitas budaya tetap bisa berkarya dan berdaya di masa dan pasca  pandemik Covid 19.

Bentuk Kegiatan

  1. Kirab Budaya Ngarak Cai (Karnaval Budaya pembawa air dari 15 Kelurahan di Kota Cimahi)
  2. Ritual Ngalokat Cai Cimahi (Upacara Penyatuan air dari 15 Kelurahan di Kota Cimahi)
  3. Pameran Lukisan dan Seni Pertunjukan Kreasi Baru Bertema Air.

Kegiatan ini semula dirancang melibatkan komunitas budaya dari Kabupaten/Kota lainnya di Jawa Barat. Namun pandemi Covid-19 membuat gerak langkat dibatasi (jaga jarak), sehingga kegiatan hanya dilakukan oleh komunitas dan pelaku budaya di Kota Cimahi. Semestinya bisa diapresiasi secara langsung, maka untuk keamanan kesehatan bersama, para apresiator diarahkan untuk menyaksikan secara virtual/daring dan para pelakunya diwajibkan mengunakan standar perlengkapan kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19.

Besar harapan, tahun selanjutnya pandemi Civid-19 berakhir, kegiatan Kirab Budaya Ngrak Cai dan Ritual Ngalokat Cai lebih banyak melibatkan masyarakat secara luas, baik sebagai pelaku maupun apresiator dari berbagai daerah di Jawa Barat, Indonesia dan mancanegara. Tentu saja kegitannya bisa dinikmati secara langsung, juga lewat daring.*I Hermana HMT (Ketua Komunitas Budaya Bandoengmooi/Ketua DKKC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here