Home Berita Seni Fasiltasi Bidang Kebudayaan 2020, Bandoengmooi Gelar Festival Air di Cimahi

Fasiltasi Bidang Kebudayaan 2020, Bandoengmooi Gelar Festival Air di Cimahi

922
0
SHARE
Musik Kolaborasi Etnik Mayang Arum - Soft Launching Festival Air (26/9/2020)

BANDOENGMOOI – Perjalanan waktu sampai 24 tahun bagi sebuah komunitas budaya seperti Bandoengmooi hingga saat ini masih eksis menggali, bereksperimen dan kembangkan budaya khususnya seni yang berbasis budaya lokal Jawa Barat ((teater, tari, musik) bukan hal mudah. Mengingat Bandoengmooi bukanlah sebuah lembaga komersil dan menitik beratkan pada edukasi yang tidak mengikat membuat orang-orang yang aktif di dalamnya silih bergati, datang dan pergi.

Hermana HMT ketua Bandoengmooi mengatakan, sejak berdiri 26 September 1996 Bandoengmooi tidak mengikat secara formal orang yang bergabung di dalamnya. Tiap orang yang menyukai seni, ingin belajar dan mengembangkan bakatnya dibidang seni atau menggali sisi lain dari kebudayaan diperbolehkan masuk untuk berproses bersama sesuai dengan minatnya.

 “Karena kami senantiasa melakukan pelatihan seni tiap tahunnya, kawan-kawan bergabung di Bandoengmooi paling minim 3 bulan dan setelah itu mereka mengembangkan bakat dan dirinya di tempat atau kumunitas lain. Bagi yang ingin terus kebangkan seni dan diri di Bandoengmooi sampai sebosannya dipersilahkan, bahkan kawan-kawan yang sudah berproses antara 5 – 10 tahun terbilang cukup banyak,” ujar Hermana.

Seni Pertunjukan Reog Sunda Trijaya Musitika, Soft Launching Festival Air (26/9/2020)

Menurut Hermana, siapapun boleh ke luar dan masuk ke Bandoengmooi, yang penting bagi mereka di jiwanya tetap tumbuh rasa kecintaan pada budaya yang digelutinya dan pengalaman atau ilmu yang telah dipetik bermanfaat bagi kehidupan dirinya, bahkan bermanfaat bagi orang lain.

“Bandoengmooi tidak janjikan memberi kesejahteraan pada anggotanya, tapi mendorong angota untuk memanfaatkan pengalaman kreatifnya menjadi bekal hidup di luar Bandoengmooi, seperti menjadi pekerja biasa, menjadi guru, menjadi dosen, menjadi seniman, menjadi wartawan, menjadi wirausahawan, menjadi pengusaha, dan lain sebagainya. Meski banyak anggota yang tidak aktif lagi secara langsung di Bandoengmooi, kami selula menjaga silaturahmi dan saling dukung, minimum sebatas memberi ucapan atau doa, ” jelas Hermana.

Hermana mengungkapkan, Bandoengmooi juga konsisten mengedukasi masyarakat lewat bahasa budaya. Melalui pertunjukan seni tidak bosan mengajak masyarakat agar menjaga lingkungan hidupanya, menjaga tanah, air dan udara dari berbagai pencemaran. Salah satu media kampanye tentang pemeliharaan lingkungan hidup, sejak 2010 Bandoengmooi menggagas dan melakukan inovasi seni bangbarongan yang terinspirasi dari motos Munding Dongkol, mahluk gaib yang dipercaya sebagai penghuni sungai (Citarum dan sungai lainnya) di kawasan Bandung Raya. Mahluh penguhuni sungai itu muncul disaat sungai sedang meluap dipenuhi air. Sosoknya gempal dan menyeramkan, suka ngamuk apabila aliran air sungai terhalangi dan amukannya menyebabkan banjir.

“Inovasi seni bangbarongan ini kami menyebutnya Bangbarongan Munding Dongkot dan kami ejawantahkan dalam wujud 16 bangbarongan, 2 mumundingan (kerbau), 1 nanagaan (naga sejenis liong), 4 badawang (ondel-ondel), dan 4 guguritaan (gurita singkong). Bangbarongan Munding Dongkol ditampilkan dalam bentuk kirab budaya dan sebangian dari 16 bangbarongan sering digunakan dalam pertunjukan teater, juga tari,” katanya.

Hermana menambahkan, selain Bangbarongan Munding Dongkol, Bandoengmooi juga melakukan rekontruksi dan inovasi Ngalokat Cai Cimahi atau berapa dearah di Jawa Barat menyebutnya Kawin Cai. Yakni sebuah upacara atau prosesi penyatuan air dari berbagai sumber mata air dalam sebuah sumur atau tempat penyimpanan air. Sebuah ritual tentang pemulyaan terhadap air bersih dan ungkapan rasa syukur pada Sang Penguasa Alam yang telah memberi rezki berupa air yang sangan bermanfaat bagi keberlangasungan kehidupan mahluk bernyawa di dunia.

“Bangbarongan Munding Dongkol dan Ngalokat Cai Cimahi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Seni Bangbarongan digunakan untuk Kirab Budaya Ngarak Cai atau kirab pembawa air sebulum prosesi upacara atau Ritual Ngalokat Cai Cimahi dilakukan,” tandas Hermana.

Lanjut Hermana, Sejak tahun 2012 sampai sekarang kegiatan Kirab Ngarak Cai dan Ngalokat Cai Cimahi masih dlakukan. Pada kesempatan ini, Bandoengmooi bersama Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC), Pemeritah Kota Cimahi melalui Disbudparpora, Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi, dan Fasilitasi Bidang Kebudayaan 2020 Ditjen Kebudayaan Kemendikbud, kembali gelar Kirab Budaya Ngarak Cai dan Ritual Nglokat Cai Cimahi dalam tajuk Festival Air 2020 secara daraing (virtual), yang puncak acaranya dilaksanakan tanggal 24-25 Oktober 2020 di 15 Kelurahan se Kota Cimahi, Studio Mini/youtube chenel Bandoengmooi dan Plaza Rakyat Komplek Pemerintahan Kota Cimahi.

“Dalam memenuhi standar protokol kesehatan Covid-19, Festival Air 2020 digelar secara Virtual. Kegiatan tidak dipusatkan di satu tempat, hanya diambil gambar lewat video, dan masyarakat yang ingin menikmati sajiannya hanya bisa menyaksikan secara daring di media sosial. Hal ini penting dilakukan agar perhelatan budaya tetap bisa berjalan dan kesehatan masyarakat juga terjaga,” ucap Hermana

Semula dalam perhelatan budaya ini  ingin melibatkan komunitas Jaga Seke ( jaga sumber mata air) se Jawa Barat dan pelaku budaya di luar Kota Cimahi, karena pandemik Covid-19 kegiatan dikerucutkan dan hanya melibatkan pelaku budaya di Kota Cimahi. Adapun Rangkain kegiatan Festival Ari 2020 diantaranya menyajikan 8 komunitas Seni Pertunjukan Cimahi, 10 Perupa Cimahi Melukis on the Spot, 15 kontingen Kirab Budaya Ngarak Cai dan Ngolokal Cai Cimahi.

Hermana menegaskan, pandemik Covid-19 jangan sampai membuat lumpuh segala-galanya. Selain harus tetap menjaga keseharan dari penularan virus yang terbilang membayakan itu, khusunya bagi pelaku budaya harus bangkit dari keterpurukan, harus tetap berdaya dan berkaya. Untuk itu Bandoengmooi bersama DKKC dan stekeholder lainnya berupaya mewujudkan pemajuan kebudayaan dan menjaga entitas berkebuyaan dengan melakukan kegiatan yang disesuaikan dengan kondisi yang sedang terjadi, yakni menggelar beberapa kegiatan secara virtual di sekretariat yang di sulap menjadi Studio Mini seperti di Bandoengmooi.

Seni Pertunjukan Teater ILC, Soft Launching Festival Air (26/9/2020)

Dalam mengawali Festival Air 2020, kami melakukan pembukaan sedehana dengan pengambilan gambar vidio pertunjukan Musik Kolaborasi Etnik, Teater dan Seni Reog Sunda, sekaligus perayaan hari jadi Bandongmooi ke 24 tahun, 26 September 2020, pukul 10.00-14.00 di Studio Mini Bandoengmooi, Jl. Babakan Loa No. 3B  RW 07, Kel. Pasirkaliki, Kec. Cimahi Utara, Kota Cimahi. Sedangkan pengambilan gambar video pertunjukan Dongeng, Pencak Silat, Permainan Tradisional, Visulisasi Manuskip dan Tari Kreasi Baru dilakukan tanggal 5 Oktober 2020 di tempat yang sama.

Adapun penayangan seni pertunjukan secara virtual dari 8 komunitas budaya Kota Cimahi dilakukan bersamaan dengan kegiatan, 10 Perupa Cimahi Melukis on the Sport, Kirab Budaya Ngarak Cai dan Ngalokat Cai Cimahi tanggal 24- 25 Oktober 2020.

“Semoga Pandemik Covid-19 segera berakhir, pelaku budaya dan masyarakat lainnya bisa melakukan aktifitas kehidupan secara nomal di era new normal,” pungkas Hermana. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here