Home Berita Seni Pemkot Cimahi Jangan Asal Realisasikan Perda Pemajuan Budaya

Pemkot Cimahi Jangan Asal Realisasikan Perda Pemajuan Budaya

333
0
SHARE
Teater Tembang Panineungan Produksi DKKC 2021

CIMAHI – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Cimahi gelar Konsultasi Publik Rancangan Rencana Pembangunan Daerah (RPD) Kota Cimahi Tahun 2023-2026 dan Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Cimahi Tahun 2023 secara langsung dan melalui zoom meeting, Jum’at (4/2/2022) di Komplek Pemkot Cimahi.

Menanggapi konsultasi publik tersebut ketua Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC), Hermana HMT menyatakan, agar pemerintah Kota Cimahi merealisasikan Perda No. 9 Tahun 2018 Tentang Pemajuan Budaya Lokal Kota Cimahi dan Perda Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kota Cimahi terutama yang berkaitan dengan pemanfataan budaya lokal sebagai salah satu sektor dalam pengembangan pariwisata Kota Cimahi.

“Selama ini, 2 (dua) Perda hasil kesepakatan bersama eksekutif, legislatif, dan masyarakat Kota Cimahi itu hanya bagus di atas kertas tapi realisisinya jauh panggang dari api. Sebagian besar pelaku budaya khususnya dan masyarakat Kota Cimahi pada umumnya tidak merasakan ada realisasi dua perda itu secara kooperatif,” ujar Hermana dalam siaran persnya (4/2/2022).

Menurutnya, selama 20 tahun Kota Cimahi berdiri program pemajuan kebudayaan hanya sebagai kegiatan yang bersifat seremonial semata. Hanya sebatas seni tontonan sesaat setelah itu dilupakan. Padahal salahsatu inti dari amanat Perda dan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan, agar saat ini dan masa mendatang Kota Cimahi dan bangsa Indonesia secara menyeluruh berkepribadian dalam berbudaya.

“Berkepribadian dalam berbudaya artinya kita harus punya identitas yang pasti atau berkarakter atau memiliki jati diri yang kokoh. Kebudayaan sejatinya tuntunan dari sebuah bangsa. Kebudayaan Kota Cimahi adalah tuntunan bagi masyarakat Kota Cimahi, dan saat ini saya merasakan Kota Cimahi terbilang lemah dalam pembangunan berkepribadian dalam kebudayaan,” kata Mang Her, pangilan Hermana yang juga berpropesi sebagai pelaku budaya.

Jelas Mang Her, arah pembangunan pemajuan kebudayaan Kota Cimahi bisa dibilang ngambang dan tidak mengakar, sehingga tak berdampak dan membuah hasil yang signifikan. Pemangku kebijakan atau para konseptor di pemerintahan Kota Cimahi masih memandang pembangunan kebudayaan sebagai beban, bukan sebagai investasi jangka panjang yang dapat menghasilkan peningkatan kesejahteraan umum. Tampaknya sampai saat ini, kebudayaan masih dipandang sebagai sektor yang membebani anggaran daerah sebab tidak menghasilkan pendapatan yang cukup besar atau  terukur.

“Hal ini terbukti dari implementasi dari program dan kegiatan yang dirancang Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudparpora) Bidang Kebudayaan Kota Cimahi tiap tahun direduksi (dipangkas) oleh bagian perencanaan dan atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) yang punya wewenang kotok palu saat penentuan realisasi program dan penganggarannya,” tandasnya.

Tambah Mang Her, Tugas Pemajuan Kebudayaan dipemeritahan sebuah Kota seperti Cimahi bukan semata-mata tugas Disbudparpora, tapi seluruh SKPD mesti melakukan pula kerena bicara kebudayaan adalah bicara suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang, serta diwariskan dari generasi ke generasi.

“Pewarisan kebudayaan dari generasi ke generasi alanghkan lebih baik juga dilakukan pemerintah Kota melalui Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cimahi. Di Disdik Kota jelas sasarannya, yaitu anak-anak SD dan SMP. Disdik berperan peting dalam pembangunan karakter anak-anak dalam menguatkan jati diri dan ketahanan budaya bangsa dari gempuran budaya asing yang kian masif,” harap Mang Her.

Selanjutnya, Disdik Kota Cimahi harus lebih berperan dalam dalam mengembangkan pendidikan kebudayaan lokal. Sebagai contok bentuk budaya seperti permainan tradisonal, pencak silat dan dongeng harus dimasukan dalam kurikulum muatan lokal. Melalui tiga bentuk budaya tersebut anak secara tidak langsung dapat pendidikan tentang kedisiplinan, tenggang rasa, gotong royong, tanggung jawab, berbudi luhur, setia kawan, ketangkasan, bela diri, berani, kepemimpinan, dan sikap lainnya yang berhubungan dengan moral.

Di sisi lain anak melakukan permainan tradisional hidupnya lebih riang, gembira dan tidak soliter (tidak asosial). Dalam permainan tradisional anak-anak juga secara bersamaan belajar berbagai jenis seni, diantanya; nyanyi, musik, tari, acting dan seni rupa.  Anak diajarkan pencak silat (olahraga tradisonal) selain menguatkan ketahan pisik, juga dipupuk keberaniannya bukan untuk bisa berkelahi tapi untuk kesiapan bela diri, bela negara dan meraih prestasi bidang olahraga. Sedangkan mendongeng sangat bermanfaat bagi bekal hidupannya dalam meningkatkan kamanpuan berbicara dan tumbuhkan rasa percaya diri tampil sendiri di dapan umum.

“Ada dua hal yang didapat dari pembangunan karakter anak dengan mempelajari budaya lokal. Pertama sebagi upaya peningkatan skill (kompetensi/ketrampilan) dan keduan membagun sikap atau kepibadian yang berhungan dengan kecerdasan IQ, EQ, kecerdasan sosoal (tata laku) dan kecerdasan lingkungan (cinta alam). Atirnya seorang anak belajar budaya lokal tidak untuk dicetak menjadi budayawan atau seniman semata, tapi lebih penting merangsang dan mengembangkan multi kecerdasan untuk menguatkan jati dirinya” ungkap Mang Her.

Dalam upaya tumbuh kembangkan produk budaya yang masuk pada dunia industri atau ekonomi kreatif mesti berda dibawah garis koordinasi Dinas Perdagangan, Kopersi, UMKM dan Perindustrian (Disdagkoperi) Kota Cimahi atau Bidang Kepawisataan dan Badan Ekonomi Kreatif Kota Cimahi.

“Dinas-dinas tersebut harus mendorong dan melakukan optimalisasi agar Produk budaya yang berkembang di Kota Cimahi dapat dimanfaatkan sebagai lahan usaha para pelaku budaya yang ujungnya dapat meningkatkan kesejehteraan masyarakat dan pendapatan daerah,” tandasnya.

Untuk optimalisasi promosi dan pendokumentasian seluruh hasil pemeliharaan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan kebudayaan Kota Cimahi tentunya harus ada andil Dinas Komunikasi, Infarmatika, kearsipan dan perpustakaan (Diskominfaarpus) Kota Cimahi. Sedangkan pemajuan kebudayan yang berhubungan dengan kelestarian lingkingan hidup, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi mesti lebih berperan.

“Berhubungan dengan pelestarian air (air tawar bersih), lingkingan hidup dan ciptakan destinasi pariwisata berbasis kearifan lokal, kami punya kegiatan Festival Air. Kegiatan yang sudah digelar kali ke 5 ini dalam bentuk Kirab Budaya Ngarak Cai (air) dan Ngarumat Cai Cimahi perlu dorongan dan kerjasama antar dinas, diantaranya; Disbudparpora, DLH, Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Dinas PUPR, Diskominfoarpus, hingga melibatkatkan seluruh kecamatan dan kelurahan sesuai tufoksinya’ pinta Mang Her.

Tegasnya, kenapa dorongang dan kerjasama ini penting karena ingin menjaga sungai Cimahi yang membentang dari kaki gunung Burangrang hingga ke Citaum terhindar dari limbah yang dapat mencemarkan air termasuk sungai lainnya dan menjaga sember mata air yang tersisa. Sungai Cimahi khususnya di Kawasan Pemkota Cimahi mesti bisa dihidupkan lagi peradabannya. Dengan pemeliharaan dan penataan yang baik, sungai itu bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kegaitan budaya sekaligus kembangkan ekonomi kreatif.

“Konsep pentahelix antar kedinasan harus nyata dibangun, sehingga beban yang dianggap berat dalam pembangunan pemajuan kebudayaan bisa dilakukan secara gotong royong atau dikerjakan bersama, termasuk penganggarannya tidak dibebankan dalam satu dinas (OPD). Intinya legislatif (DPRD), eksekutif (pemkot), stakeholder lainnya, dan masyarakat harus punya kepedulian bersama, bahwa pemajuan kebudayaan sama pentingnya dengan pembangunan bidang pisik, kesehatan dan ekonomi, sehingga harus menjadi skala prioritas. Ingat, hilangnya budaya disebuah kota maka hilang jati diri dan hacur pula citra Kotanya. Maju kebudayaannya, dengan sendirinya maju pula peradabannya,” pungkas Hermana. ** (Humas DKKC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here